Kamis, 15 Maret 2012 - 09:03:14 WIB
Nasib Peternak Kambing Etawa Kita
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Indukan - Dibaca: 25300 kali

Share |

Kebanyakan masyarakat di Indonesia memelihara kambing adalah merupakan pekerjaan sambilan. banyak diantara mereka memelIhara kambing dalam kapasitas yang kecil/ skala rumahan. biasanya kambing yang dipelihara jarang yang lebih dari 5 ekor.
hal ini jelas merupakan ironi yang menyakitkan. banyak diantara para petani ataupun masyarakat luas yang cara pemeliharaannya dan perawatannya seadanya. bagi mereka kambing hanya merupakan pekerjaan sampingan. kambing dikasih makan dan minum sekali sehari, dan katanya itu sudah tradisi dari nenek moyang mereka. karena mereka semua beranggapan bahwa pemeliharaan kambing walaupun menguntungkan, tetapi hasil yang mereka peroleh sangatlah sedikit dan kecil. coba bayangkan, kambing yang mereka pelihara selama sekian tahun/bulan hanya laku dipasaran dengan harga kisaran 400.000 sampai 500.000 per ekor. alangkah sedikitnya penghasilan yang mereka peroleh. itulah sebabnya jarang ada petani di Indonesia yang sukses. selain jumlah ternakan yang mereka peihara sedikit, mutu dan kualitas dari kambingnya sendiripun juga biasanya asal-asalan.
mampukah kita merubah wajah peternakan Indonesia?
jawabanya MAMPU. asalkan kita harus berani merubah kebiasaan beternak kita. coba banyangkan sebuah produk makanan yang bernama tempe. tentunya kita semua tau dan gampang untuk mendapatkan barang tersebut. dengan harga yang murah kita pasti bisa memperoleh barang tersebut di pasar. tetapi coba kalau tempe tersebut kita kemas yang bagus, kita desain bungkusnya menjadi lebih menarik, kita ubah ujudnya jangan selalu kotak melulu dan jual di pasar yang tepat (misalkan supermarket atau hipermarket). apa hasilnya? jelas tempe tersebut pastilah memiliki nilai jual yang lebih tinggi. karena tempe tersebut sudah melewati proses yang berbeda.
begitu juga dengan peternakan kita, khususnya kambing. kalau kambing diolah dan dikemas secara manis, pastilah kambing bukan hanya menjadikan pekerjaan sambilan yang hanya akan mendatangkan penghasilan yang kecil saja. kalau kita berani merubah kebiasaan beternak kita dengan melakukan pemilihan bibit unggul, perawatan yang prima, menjaga kesehatan secara maksimal, pastilah hasil yang akan diperoleh juga akan maksimal. rubah kebiasaan kita dari memelihara kambing bermutu rendah ke arah kambing bermutu tinggi. hasilnya pasti akan spektakuler.
terlepas dari persoalan diatas, untuk mendapatkan bibit bermutu tentu tidak lepas dari masalah biaya. karena peternak tentunya juga berasal dari latar belakang yang berbeda pula. ada beberapa kiat sederhana yang bisa ditempuh peternak untuk mencapainya. misalnya memelihara kambing berkualitas dalam jumlah yang sedikit dahulu.
tidak bisa dipungkiri, harga kambing yang berkualitas tentunya lebih mahal. kalau dirumah kita sudah memelira kambing dengan jumlah banyak tetapi kualitasnya rendah, kenapa kota tidak berani jual semua kambing jelek milik kita ke pasar kemudian kita tukar dengan kambing kualitas bagus. kita harus tanggap akan hal ini. ubah kebiasaan kita memelihara kambing dengan jumlah banyak tetapi kualitas jelek dengan memelihara kambing sedilik dengan kualitas bagus. dengan memelihara kambing sedikit tetapi berkuaitas, tentunya akan banyak pos-pos keuangan yang akan dapat dihemat. misalkan dari segi pakan dan perawatan. selain itu dengan kambing yang berkualitas harapan untuk mendapatkan anakan kambing yang berkualitas juga akan semakin nyata. kalau anakannya sudah bagus dan berkualitas tentunya akan dapat mendongkrak harga kambing itu sendiri.
coba bayangkan jika kita memelihara kambing bermutu jelek dengan kambing bermutu bagus. apa beda perawatan antara keduanya? TIDAK ADA PAK... kambing jelek dan kambing bagus juga sama-sama makan, kambing jelek dan kambing bagus juga perlu perawatan, kambing jelek dan kambing bagus juga perlu kandang, dll. apa yang membedakan? yang membedakan antara perawatan kambing bagus dan kambing jelek hanyalah NILAI JUAL KAMBINYA. harga kambing bagus tentunya jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga kambing jelek.
lha kalau kita sudah paham tentang hal itu, kenapa kita tidak berani untuk merubah kebiasaan kita?

selamat merenung...



1 Komentar :

tanto
19 Oktober 2012 - 23:02:50 WIB

lha gak punya modal pak, masak sawah e simbok disulap jadi kandang kambing?
<< First | < Prev | 1 | Next > | Last >>
Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)